Wisata Geoarkeologi CEKUNGAN SOA

Wisata Geoarkeologi CEKUNGAN SOA

Cekungan Soa

Hai Moregen, kembali lagi nih di segmen geologi.

Moregen suka travelling ga nih? Recommended baget wisata geoarkeologi bagi moregen yang suka berwisata namun ada unsur sejarah dan geologisnya. Namanya  adalah “Cekungan Soa”. Cekungan Soa di Wilayah Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo terletak di  Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Keunggulan dari destinasi wisata ini banyak menyimpan tinggalan budaya yang antara lain berasal dari masa Paleolitik, seperti keberadaan Homoerectus ditandai dengan adanya artefak-artefak litik kasar, dan ada juga 12 situs sejarah diantaranya Situs Kobatuwa, Situs Metamenge, Situs Lembahmenge, Situs Wolosege, Situs Boa Lesa, Situs Olabula, Situs Kampunglama Olabula, Situs Tangitalo, Situs Ngamapa, Situs Kopowatu, Situs Dozo Dhalu dan Situs Sagala. namun sayangnya selama ini belum terlalu diperhatikan lebih lanjut oleh peneliti lingkungan, khususnya geoarkeologi. Wah kalau moregen cikalbakal calon arkeolog muda boleh banget nih penelitian disini 🙂

 

#tahukahmoregen ternyata Cekungan Soa memiliki keadaan geomorfologi dan pola aliran sungai yang beragam loh moregen… Diantaranya ditemukannya jenis tumbuhan Poaceae, Pteridaceae, Fagaceae, Cyperaceae dan Euphorbiaceae. #tahukahmoregen ternyata jenis Fagaceae yang hanya terdapat pada hutanhutan basah. Seiring perkembangan zaman telah terjadi perubahan vegetasi dari hutan basah ke vegetasi savana yang saat ini didominasi oleh hamparan padang rumput. Sebagian besar daerah ini ditumbuhi oleh pohon besar, semak belukar, dan di beberapa tempat berpotensi sebagai lahan pertanian.

 

Geomorfologi Cekungan Soa

memperlihatkan kondisi dataran bergelombang dan perbukitan Yang secara umumnya memiliki ketinggian 250 – 400 meter dpl. Adapun Sungai Induk yang mengalir pada Cekungan Soa ini adalh Sungai Ae Sisa yang mengalir dari arah barat daya ke timur laut dan bermuara di Laut Flores. Sungai-sungai lainnya di wilayah penelitian adalah Lowo Aebha, Lowo Lele, Lowo Watulado, Watulado, Lowo Mebhada, Wae Wutu, Kokosebalu, Lo Dobo, Wae Wutu, Lo Nagebaga, Wae Meze, Kobatawa, Menge, Soa Bizu, dan Dozo Dhalu.

Umumnya sungai-sungai ini mengalir serta menyatu dengan Sungai Ae Sisa. Keseluruhan sungai tersebut memberikan kenampakan pola pengeringan Centripetal. sungai tersebut termasuk pada kelompok sungai yang berstadia Sungai Dewasa-Tua (old-mature river stadium) dan Sungai Tua. Berdasarkan klasifikasi atas kuantitas air, maka Sungai Ae Sisa dan beberapa sungai yang agak besar termasuk pada Sungai Periodik/Permanen dan Sungai Episodik/Intermittent.

 

Litologi Pada Cekungan Soa

Hal ini digolongkan atas dasar jenis batuan. batuan yang menyusun wilayah penelitian adalah tufa, breksi vulkanik, konglomerat, dan endapan aluvial. Endapan aluvial ini merupakan hasil pelapukan batuan penyusun wilayah Cekungan Soa dan berumur Holosen. Batuan Konglomerat termasuk pada batuan sedimen mekanik (epyclastic). Batuan konglomerat dapat disebandingkan dengan Hasil Gunungapi Tua sehingga batuan konglomerat berumur Plistosen Awal-Pistosen Tengah, dengan lingkungan pengendapan air dangkal yang tenang.

Batuan Tufa, termasuk jenis batuan sedimen mekanik (epyclastic), yang berumur Plistosen Awal – Pistosen Tengah, dengan lingkungan pengendapan air dangkal yang tenang. Dan terakhir ialah breksi vulkanik, termasuk batuan sedimen vulkanik (pyroclastic). #tahukah moregen , ternyata Batuan Breksi Vulkanik dapat disebandingkan dengan Hasil Gunungapi Tua Sehingga batuan Breksi Vulkanik berumur Plistosen Awal – Pistosen Tengah, dengan lingkungan pengendapan air dangkal yang tenang.

 

Struktur Geologi pada Cekungan Soa

Struktur Geologi pada Cekungan Soa berupa sesar, lipatan, dan kelurusan. Sesar yang dimaksud adalah sesar normal dan sesar geser. Sesar normal yang terdapat pada batuan Miosen Tengah dan Miosen-Pliosen berarah baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya. kemungkinan penyesaran ini terjadi pada Kala Pliosen. Sesar geser yang terdapat pada Miosen Tengah dan Miosen-Pliosen berarah baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya.

Kemungkinan penyesaran ini berlangsung pada Pliosen juga. Perlipatan terjadi pada Formasi Nangapada dengan kemiringan 20º50º, di beberapa tempat kemiringan lapisan 10º-15º, Formasi Laka dan Formasi Waihekang berhubungan menjemari dan telah terlipat kuat dengan kemiringan 10º30º, berarah timurlaut-baratdaya, dan baratlaut-tenggara. Sisipan tuf, dan tuf batupasir Formasi Kiro terlipat dengan kemiringan 10º-25º.  Dengan demikian perlipatan terjadi pada Pliosen Akhir atau Plistosen Awal. Kelurusan yang terdapat pada batuan Miosen Tengah sampai yang termuda, yakni batuan gunungapi Holosen berarah barat laut – tenggara dan barat daya – timur laut.

Cekungan Soa

 

REFERENSI:
  1. Fadhlan dan S. Intan. 2017. Geoarkeologi Cekungan Soa, Flores, Nusa Tenggara Timur. Vol.23 (1) Mei 2017: 31-48. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional http://siddhayatra.kemdikbud.go.id/index.php/siddhayatra/article/download/111/pdf diakses pada 06 Oktober 2019 pk 21.00 WIB.

Leave a Reply