Pencemaran Laut Indonesia

Pencemaran Laut Indonesia

Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat tumpahan minyak di laut dari Sumur YYA-1 Blok Offshore North West Java (ONWJ) telah berhasi‎l dikumpulkan sebanyak 42 ribu barel per 22 September 2019.

Ketua Tim Penanganan Kebocoran Gas dan Tumpahan Minyak Sumur YYA-1 ‎Taufik Aditiyawarman mengatakan,‎ sejak ditemukannya tumpahan minyak imbas dari kebocoran gas di Sumur YYA-1 pada Juli 2019, tim PHE telah berhail mengumpulkan 42 ribu barel minyak di laut dan 5,7 juta karung minyak tercampur lumpur dari darat.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu mengungkapkan, 42 ribu barel minyak tersebut masih tercampur dengan‎ air.

Pertamina Melibatkan LIPI

Pertamina akan melibatkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk memilah ulang kandungan minyak, sehingga dapat diketahui secara pasti jumlah minyak yang keluar dari sumur YYA-1.

Pertamina ingin mengolah minyak yang terkumpul tersebut, namun masih menunggu keputusan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menetapkan minyak tersebut bisa diolah atau menjadi Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Nelayan Muara Gembong

Nelayan Muara Gembong memilih untuk menjadi pengepul oil spill karena tidak mungkin melaut dalam kondisi air tercemar. Nelayan mengumpulkan tumpahan limbah minyak (oil spill) yang mencemari Pantai Muara Beting, Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (28/7/2019)

Pertamina Hulu Energi (PHE) akan menyalurkan kompensasi dampak kebocoran minyak ke masyarakat Bekasi dan Kepulauan Seribu. Sebelumnya masyarakat Karawang telah mendapatkan kompensasi terlebih dahulu. Ketua Tim 1 Penanganan Dampak Eksternal PHE ONWJ Rifky Effendi Hardijanto mengatakan, PHE sudah memberikan kompensasi perdana untuk 2.401 warga Karawang yang terdampak sejak 11 September 2019.

Adapun pembagian tahap kedua untuk mengejar target 10.471 warga. Menurut Rifky, penyaluran kompensasi dampak tumpahan minyak akan diperluas. Rencananya, pekan depan masyarakat Bekasi dan Kepulauan Seribu yang terdampak akan mendapatkan kompensasi.

Besaran kompensasi yang diterima masyarakat mencapai Rp 900 ribu per bulan sejak kejadian pertama kali semburan.

Peristiwa tumpahan minyak sudah menginjak dua bulan maka kompensasi yang diterima sebesar Rp 1,8 juta hingga September 2019.

 

Referensi:
www.liputan6.com

Leave a Reply