Perlindungan Hiu

Perlindungan Hiu

Indoceania

PERKEMBANGBIAKAN HIU

Hiu memiliki karakter biologis yang spesifik seperti berumur panjang, fekunditas rendah, jumlah anakan sedikit, lambat dalam mencapai matang kelamin dan pertumbuhannya lambat. Sehingga sekali terjadi over eksploitasi, sangat sulit bagi populasinya untuk kembali pulih.

Kebanyakan hiu termasuk hewan predator pada lingkungan terumbu karang dan lautan. Mereka berada pada tingkat atas dari rantai makanan yang menentukan keseimbangan dan mengontrol jaring-jaring makanan yang komplek di bawah mereka.

Dari 117 jenis hiu yang terdapat di Indonesia, hanya 1 jenis yang sudah berstatus dilindungi penuh, yaitu hiu paus (Rhyncodon typus). Empat jenis hiu lainnya, yaitu hiu koboy (Carcharhinus longimanus) dan 3 jenis hiu martil (Spyhrna lewini, Sphyrna zygaena, dan Sphyrna mokarran) termasuk yang dilarang ekspor melalui Permen KP No. 5 Tahun 2018.

Sedangkan ada 8 jenis hiu yang masuk CITES, yang artinya pemanfaatan untuk perdagangan luar negerinya diperbolehkan, namun dengan aturan ketat.

UPAYA PERLINDUNGAN

Upaya perlindungan pada spesies hiu semakin gencar dilakukan Indonesia dalam beberapa tahun ini. Langkah itu harus dilakukan, karena hiu menjadi kelompok spesies paling terancam di dunia.

Menurut daftar International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), dari semua populasi hiu yang ada di seluruh dunia, sebanyak 31 persen terancam dalam kepunahan.

Indoceania

Bentuk upaya perlindungan yang dilakukan di Indonesia diantaranya adalah dengan menerbitkan dokumen Non-Detriment Finding (NDF), yaitu dokumen yang berisikan rekomendasi Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) terkait pembatasan perburuan hiu, salah satunya adalah Hiu Lanjaman atau hiu kejen di perairan Indonesia.

Penetapan status perlindungan ikan hiu dilakukan secara bijaksana dan berdasarkan prinsip kehati – hatian, karena menyangkut sosial dan ekonomi sebagian masyarakat

Khususnya masyarakat nelayan yang menjadikan ikan hiu sebagai tangkapan utama (bagi nelayan di Tanjung Luar-NTB) dan konsumsi lokal (di daerah Aceh dan Toraja) karena harga dagingnya murah.

Kehati – hatian itu berarti kekayaan alam Indonesia seperti ikan hiu dan pari boleh dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan masyarakatnya, namun dengan tetap menjaga kelestariannya sehingga ikan hiu itu dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

STRATEGI PENYELEMATAN

Dalam rangka pengelolaan hiu yang berkelanjutan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Hiu dan Pari 2016-2020.

KKP juga sedang menyusun rancangan perlindungan terbatas hiu, berupa larangan penangkapan hiu hamil, hiu anakan, dan hiu di kawasan konservasi.

Indoceania

Referensi

www.mongabay.co.id
www.kkp.go.id

Leave a Reply